ENSAMBEL musik Melayu perlahan mengalun. Pang...pang...bing, dua "terbang" tanpa lempengan kuningan ditabuh melatari jeritan biola dan akordion, ditingkahi bunyi beduk kecil dalam ketukan tertentu. Lima gadis berbusana Melayu memasuki panggung dengan langkah-langkah gemulai. Salah seorang di antara membawa "tepak", kotak khusus untuk menyimpan sirih.
|
 TIM kesenian dari Kota Pekanbaru Riau mementaskan beragam seni Melayu dalam pergelaran bertajuk "Khazanah Negeriku Untuk Bangsaku" yang berlangsung di Teater Tertutup Taman Budaya Jawa Barat, Rabu (16/3) malam.* HAZMIRULLAH/"PR"
|
Di tengah panggung, kelima gadis itu menarikan Tari Persembahan, sebuah kebiasaan yang berlaku di seantero ranah Melayu. Memungkasi tarian, "tepak" dibawa ke hadapan tamu agung sekaligus dipersilakan mencicipi sirih. Tari Persembahan itu dijadikan sebagai tanda dimulainya Pergelaran Seni Melayu Riau bertajuk "Khazanah Negeriku Untuk Bangsaku" yang berlangsung di Teater Tertutup Taman Budaya Jawa Barat, Rabu (16/3) malam. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Keluarga Mahasiswa Pekanbaru (GAHARU) yang berada di Kota Bandung. Secara khusus, mereka mendatangkan tim kesenian dari Pekanbaru yang tergabung ke dalam Sanggar Maharatu.
Setelah serangkaian kata sambutan, Tari Zapin Tradisi dijadikan sebagai permulaan pertunjukan. Berdasarkan tradisi di Pekanbaru, tarian tersebut digelar saat malam "berinai" (biasanya 4 hari sebelum pesta pernikahan dilangsungkan) dan malam pernikahan. Sayangnya, gerakan-gerakan dinamis dan ragam formasi tak tertampak dalam tarian itu. Di panggung, 4 penari pria hanya mengambil garis lurus (depan-belakang) dalam kisaran jarak yang pendek.
Gerakan yang mereka lakukan hanyalah double-step dengan sesekali mengubah posisi kaki. Padahal biasanya, gerakan-gerakan yang dimunculkan dalam Tari Zapin sangatlah beragam, pun demikian dengan formasinya. Catatan yang sama juga berlaku saat Tari Rentak Zapin Serampang Dua Belas dipentaskan. Tiga pasang muda-mudi dalam tarian itu hanya bergerak dalam kisaran yang kecil sehingga terasa benar kekosongan panggung.
Karakter asli tari Melayu (genre joget-red.) baru terlihat pada tarian ketiga. Dengan iringan musik yang up-beat, 9 penari (4 pria 5 wanita) bergerak lincah dan membentuk beragam formasi. Luas panggung tak hanya dimanfaatkan secara horizontal (belakang-depan dan kiri-kanan), tetapi juga secara diagonal.
Perubahan formasi pun dilakukan dengan cepat dan secara tersamar (tiada batas) sambil tetap bergerak, menggunakan double-step. Itulah sebenarnya daya tarik tari Melayu genre joget. Apalagi, para penari mampu memperlihatkan kualitas gerak yang aduhai. Tak heran jika gemuruh tepuk tangan penonton mereka terima begitu tarian usai.
Grafik suasana tetap dipertahankan menyusul digelarnya Tari Rentak Belian (ritual pengobatan milik masyarakat Kab. Indragiri Hulu). Uniknya, musik pengiring didominasi oleh entak perkusi dan kostum para penari pun menyerupai adat orang Dayak.
Dalam pergelaran itu, Sanggar Tunas Melayu Bandung turut mementaskan sejumlah tari, seperti "Zapin Anak Negeri" dan "Joget Tanjung Katung". Selain tarian, digelar juga lagu, puisi, serta fashion show. Malam itu, anak-anak Melayu di rantau orang benar-benar dimanjakan. Dusun di seberang pulau pun seperti tampak di depan mata. (Hazmirullah/"PR")***